Tip 38 Renovasi Rumah vs Bangun Rumah Baru: Biayanya Lebih Murah Mana?
Posted by Anna Hape on April 23, 2008 · 38 Komentar
annahape.com Ketika klien menghubungi saya untuk berkonsultasi merenovasi rumah, ada dua hal yang biasa selalu disampaikan yaitu: Pertama, “Kami HANYA mau menggeser tembok/ dinding rumah beberapa meter ke belakang atau ke samping”; dan Kedua, “ Kami ingin meningkatkan rumah menjadi dua lantai”. Bagaimana (biayanya), mbak?
Berikut tanggapan saya, untuk persoalan pertama. Ok, banyak awam bangunan mengira, sedikit perubahan atau sedikit renovasi sama dengan sedikit biaya. Klien sering terkejut, ketika tahu bahwa biaya yang dikeluarkan sering di luar perkiraan mereka.
Memperbesar ruangan 1 m atau 3 m hampir tidak mengubah ongkos kerja. Soalnya, komplikasi yang mungkin muncul karena renovasi dapat sama antara renovasi besar dan kecil. Misalnya, perubahan pada atap, memperpanjang utilities (listrik dan air), mencocokkan dengan finishing awal.
Saya beri contoh sederhana. Katakanlah, Anda akan merenovasi rumah dengan menambah satu kamar 3mx3m. Total penambahan 9m2. Dari berbagai sumber Anda mengetahui bahwa biaya pembangunan rumah standard layak adalah Rp 2,5 juta tiap m2. Jadi, Anda menghitung, biaya renovasi adalah Rp 22,5 juta (9xRp 2,5 juta). Hitungan ini tidak sepenuhnya benar.
Mengapa? Penambahan ruangan itu mungkin berimplikasi pada perubahan struktur atap lama. Kalau pun tidak, sebagian atap lama harus dibongkar untuk membuat sambungan atap. Pembuatan sambungan atap dapat meningkatkan resiko kebocoron sewaktu hujan. Karenanya, ada bagian dari atap lama yang harus di kerjakan juga.
Selain atap, sangat mungkin ada bagian dari tembok lama yang ikut terbongkar dan harus diperbaiki lagi karena penambahan dinding. Ini berarti, ada tambahan biaya bongkar dan bangun kembali dinding lama. Artinya, nilai rata-rata per m2 bangunan renovasi dapat lebih tinggi daripada rata-rata nilai per m2 bangunan yang sama sekali baru.
Karenanya, saran saya: kalau Anda ingin merenovasi rumah dan ingin menghindari biaya yang tidak perlu, maksimumkan area renovasi sesuai dengan lahan, anggaran dan alasan renovasi. Renovasi kecil tidak berarti biaya kecil.
Sekarang soal renovasi dengan membuat bangunan bertingkat. Sekilas masuk akal, lebih baik meningkatkan bangunan dari pada melebarkan bangunan. Fondasi rumah sudah ada, bukan? Dalam banyak kasus, fondasi rumah satu lantai tidak disiapkan untuk fondasi rumah 2 lantai. Itu berarti, fondasi yang ada harus dikuatkan. Istilah awamnya, suntik fondasi. Atau bahkan pembuatan fondasi baru.
Menambah lantai rumah berarti Anda juga harus menyisihkan 6m2 atau lebih untuk tangga. Nah, hal ini seringkali berarti Anda harus mengorbankan kamar tidur di lantai satu dan memindahkannya ke lantai 2. Artinya, membuat 2 kamar di lantai 2, mungkin berarti Anda hanya mendapat 1 kamar tambahan. Hal yang lain, tergantung lingkungan Anda, menambah tinggi rumah mungkin merugikan tetangga Anda, baik pemandangan atau mungkin sinar matahari. Anda mungkin mengira Anda lebih beruntung karenanya. Tetapi, di lain kesempatan , mungkin Anda yang mengalami rugi lebih besar.
Ringkasnya, kalau renovasi rumah hanya mungkin dengan membuatnya menjadi 2 lantai, ya lakukan saja. Tetapi, melebarkan bangunan ke samping atau ke belakang, umumnya lebih mudah, lebih murah dan menghindari kebutuhan tambahan ruang untuk tangga.
Salam

Annahape
<a href=”http://www.stumbleupon.com/submit?url=&title=”>
Stumble it!
Disimpan dalam Annahape, Desain Arsitektur · Dikaitkatakan dengan Anggaran Bangun Rumah, Annahape, arsitek rumah, Arsitek Rumah Tinggal, Bangun Rumah, Desain Arsitektur, desain rumah, gambar rumah, konsultasi arsitek, Renovasi Rumah, Rumah Idaman
Comments
38 Responses to “Tip 38 Renovasi Rumah vs Bangun Rumah Baru: Biayanya Lebih Murah Mana?”Lacak Balik
Check out what others are saying...-
[...] ini mungkin benar, tetapi bisa jadi biaya yang Anda bayar untuk merenovasi jauh lebih besar (Baca tip 38). 2. Cara yang lain telah dilakukan oleh salah seorang klien langganan studio kami. Sebelum Anda [...]
-
[...] tip 38, saya mengatakan bahwa renovasi rumah dapat lebih mahal dibanding membangun rumah baru. Memang lebih baik membangun rumah sekaligus [...]

















*manggut-manggut*
kalo gitu sementara saya tetep kost aja deh…
Hal yang seringkali terlewatkan pada saat renovasi rumah adalah minimnya sirkulasi udara, khususnya pada tipe-tipe rumah mungil (T21,T36) dengan luas tanah standar (60m2).
Gimana tipsnya agar sirkulasi udara tetap nyaman tanpa dibantu kipas angin/AC ya?
Terima kasih.
terima kasih tipsnya kk
Btw, saran Bung AM Putra juga bagus tuh. Mending dibanyakin ruang terbuka ya.. trus nanti gampang dalam kastemisasi ruangan di dalamnya.
Bisa saya pertimbangkan dalam pembangunan rumah saya.
Salam,
Thanks buat artikel nya. Bermanfaat dalam menimbang layout rumah yang mau tak bangun di BNR.
Sekarang ini ukuran asli dari BNR 77 luas tanah 237m dengan 2 kamar. Namun kelihatannya pengen 3 kamar.
Setelah membaca artikel ini semakin kuat keputusan untuk merubah layout dari sekarang mumpung masih belum dibangun.
Btw, di BNR per meter bangunannya 2,75 juta. Kemahalan ga ya mba Anne?
Salam
aku mau renovasi rumah, biar tetap bisa dihuni tapi renovasi tetap jalan gimana caranya? sampai hari ini gambar desain juga belum ada. tolong bantu aku ya……
Belum punya rumah.. masih ngendon ma ortu di kampung… but, thank infonya…
keren juga mbak, kayaknya musti maen2 kesini neh
*lagi mikir bangun or beli rumah
Artikel yang tajam. Persoalan memodifikasi bangunan kadang bisa menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan, sebaliknya juga bisa menjadi mimpi buruk.
Sebagai tambahan, persoalan menambah dinding sebenarnya bisa diakali dengan instalasi panel (seperti yang digunakan untuk pameran/penyekatan kantor). Beberapa rumah di manca negara yang menggunakan konsep denah terbuka memanfaatkan panel, sehingga mereka dapat mengotak-atik komposisi denah. Di Indonesia dimana umumnya dinding rumah dirancang dengan bahan yang permanen, penyingkirannya harus juga mempertimbangkan apakah dinding itu berfungsi sebagai struktur penyangga atap; bilakah ditiadakan masih kuatkah strukturnya?
Pertimbangan menambah lantai juga harus menganalisis tinggi bangunan eksisting. Umumnya, ketinggian yang nyaman secara fisik dan psikis untuk ruang-ruang dalam rumah minimal 3 m (minus langit-langit). Apakah tinggi lantai masih dapat ‘dipotong’? Dan bila dipotong, masalah lain bisa saja muncul: pencahayaan, ventilasi, struktur, konstruksi, dll.
Terakhir, seperti halnya membangun, membongkar juga sama repotnya. Ketika merubuhkan dinding/atap, bagaimana pengelolaannya? Dibuang/dimanfaatkan (adaptive reuse)? Urutan pembongkaran? Bagaimanapun juga, justru disinilah kenikmatan merancang.
artikel keren!!!!!!!!
*ngacungin 4 jempol*